Minggu, 27 November 2011

Alam, Manusia Dan Lanskap ENDE LIO (oleh Mukhlis A. Mukhtar)

Alam, Manusia Dan Lanskap Ende Lio
(oleh Mukhlis A. Mukhtar)

             Liburan Lebaran 2011 telah usai sudah saatnya kembali ke Kota Malang dimana Kota ke dua tempat aku berdomisili sebagai pelajar yang melanjutkan studi. Perjalan dari Kota Ende ke Kota Malang melewati Maumere dikarenakan maumere merupakan daerah pengebrangan ke Kota Surabaya. Kapal  Dharma Kencana yang merupakan sarana transportasi Laut yang saya tumpangi menuju Surabaya. Seperti biasanya ketika menuju Maumere melewati berbagai kampung – kampung yang ada di bagian timur kota ende. Perjalanku  ke Maumere melewati jalan yang beliku-liku yang merupakan cirri khas jalan yang ada di Flores karna merupakan daerah yang berbukit-bukit. Sesampainya di Kampung Detusoko, hamparan sawah yang luas membuatku tersentak untuk sedikit pelan melaju kendaraanku untuk menikmati pemandangan sawah di sekitar kampong Detusoko. Sejenak ku berhenti untuk beristirahat dan menikmati pemandangan area persawahan yang indah. Pemandangan persawahan yang ini dan menyatu dengan alam sekitarnya merupaka cirri khas tersendiri yang ada di Kampung Detusoko .Persawaan yang ada di Kampung Detusoko merupakan daerah pertanian  milik masyarakat adat. Sudah sejak lama daerah ini dikenal dengan kawasan pertanian yang merupakan pasokan untuk masyarakat kota Ende dan sekitanya.
             Gambar Foto Motor Yang Membawaku dari Kota  Ende menuju Kota Malang



Makna Lanskap
Landscape/lansekap secara umum memiliki makna yang hampir sama dengan istilah ‘bentanglahan’ atau ‘fisiografis’ dan ‘lingkungan’. Perbedaan diantara ketiganya terletak pada aspek interpretasinya. Bentanglahan yang di dalamnya terdapat unit-unit bentuk lahanmerupakan dasar lingkungan manusia dengan berbagai keseragaman maupun perbedaan unsur-unsurnya. Kondisi bentanglahan seperti ini memberikan gambaran fisiografis atas suatu wilayah.Wilayah yang mempunyai karakteristik dalam hal bentuk lahan, tanah vegetasi dan atribut (sifat) pengaruh manusia,yang secara kolektif ditunjukkan melalui kondisi fisiografi dikenal sebagai suatu lansekap.(Vink 1983)



Lanskap Persawahan di Detusoko
Masyarakat Ende Lio memiliki pekerjaan umumnya sebagai petani. Ende lio merupakan daerah yang subur dilihat dari hasil pertanian yang beraneka ragam. Khususnya di Kampung Detusko Ende Flores biasa dilihat dari lahan pertaniannya berupa persawahan yang luas yang membentang sekitar wilayah kampong tersebut. Karakter Kampung Detusoko merupakan karakter daerah pertanian Padi .Persawahan teras di Kampung Kabupaten Ende, merupakan salah satu bentangan budaya (cultural landscape) yang merupakan Lanskap tradisional yang masih ada di Kampupaten Ende.  Sawah ini memiliki luasan berhektar-hektar  dengan pemukiman serta sarana-prasarana sosial di sekitarnya seperti Lumbung sebagai tempat pengimpanan hasil pertanian. Persawahan di Kampung Detusoko dengan beberapa sawah lainnya berperan sebagai lumbung padi bagi Masyarakat Kabupaten Ende. Lanskap sawah teras Detusoko dapat digolongkan pada lanskap tingkat meso (desa) dan termasuk pada lanskap dominan alami. Hal yang membedakan sawah teras ini dengan sawah lainnya adalah pemandangan lanskap sawah teras yang indah serta suasana sekitarnya yang dikelilingi perbukitan. Keunikan lainnya adalah masyarakat sekitar yang masih melestarikan kebudayaan turun-temurun mereka dalam bidang pertanian.  


Gambar Persawahan di Daerah Kampung Detusoko Sumber Foto Pribadi 2011
Gambar Karakter Persawahan di Daerah Kampung Detusoko Sumber Foto Pribadi 2011


Gambar Lansekap Persawahan di Daerah Kampung Detusoko Sumber Foto Pribadi 2011
Gambar Lubung (Kebo) di Persawahan di Daerah Kampung Detusoko Sumber Foto Pribadi 2011


Gambar Lumbung (Kebo) Persawahan di Daerah Kampung Detusoko Sumber Foto Pribadi 2011


Gambar Pertanian Jagung di Daerah Kampung Detusoko Sumber Foto Pribadi 2011


Gambar Lumbung (Kebo) Persawahan di Daerah Kampung Detusoko Sumber Foto Pribadi 2011


Gambar Lumbung (Kebo) Persawahan yang mengatu dan bagain dari Lansekap tradisional Ende Lio
 di Daerah Kampung Detusoko Sumber Foto Pribadi 2011


Gambar Lumbung (Kebo) Persawahan yang mengatu dan bagain dari Lansekap tradisional Ende Lio
 di Daerah Kampung Detusoko Sumber Foto Pribadi 2011
Kampung Detusoko merupakan karakter daerah pertanian Persawahan bagian dari localitas masyarakat setempat. Tampa disadari membentuk eleman Arsitektur Lansekap Tradisional. Arsitektur Lensekap Tradisional adalah Arsitektur bentukan localitas setempat yang menyatu dengan alam, manusia dan Budaya. Karakter lanskap muncul terjadi karena kekuatan faktor-faktor pembentuknya, baik berupa elemen atau proses alami (aspek ekologis) maupun karena pengaruh manusia (aspek budaya).




(Gambar Skema Hubungan Alam, Manusia dan Lansekap)


        Bersyukur kepadaNya atas apa yang diciptakan ke dunia baik alam dan pikiran lewat campur tangan manusia kita dapat menikmati hasil alam yang melimpah untuk keberlangsungan kehidupan Manusia.



UNTUK ENDE LIO KU......


Perhatian :

Untuk Foto yang di ambil tolong di cantumkan sumbernya..Terima Kasih








Rabu, 23 November 2011

R E S O R T P A N T A I N A N G A N E S A (oleh Mukhlis A.Mukhtar. ST)

R E S O R T   P A N T A I   N A N G A N E S A
  (oleh Mukhlis A.Mukhtar. ST)

P e n g e r t i a n
      Resort mempunyai arti sebagai tempat peristirahatan yang biasanya berada di kawasan wisata pantai, pegunungan, danau dan tempat wisata lainnya. Resort pantai merupakan bagian dari kegiatan wisata pantai yang dilakukan di perairan pantai pada waktu senggang untuk mendapatkan penyegaran kembali, baik fisik maupun mental, dengan maksud dan tujuan menampung aktifitas berekreasi beserta penyediaan pelayanan jasa dan fasilitas pendukung sehingga memudahkan kelangsungan rekreasi pantai tersebut.

D e s k r i p s i  P r o y e k
·      Kasus proyek                : Resort Pantai Nanganesa Di Ende, Nusa Tenggara Timur
·      Jenis proyek                  : Proposal
·      Lokasi proyek               : Desa Nanganesa Kecamatan Ndona
·      Pemilik proyek              : Pemerintah Kabupaten Ende
·      Sumber dana                 : Pemerintah Kabupaten Ende
·      Pengelola                      : Pemerintah Kabupaten Ende dan Instansi terkait
·      Lingkup pelayanan       : Kota Ende dan sekitarnya
·      Luas Lahan                   : 3 Ha
·      KDB                            : 40 %
·      Toleransi ketinggian     : 1 Lantai
·      Garis sempadan pantai : 50 M

P r o g r a m  K e g i a t a n
  • Kegiatan penginapan : Kegiatan penginapan meliputi makan dan minum yang telah disediakan pengelola resort serta menikmati segalam macam fasilitas yang telah di sediakan di penginapan.
  • Kegiatan rekreasi dan Hiburan : Kegiatan menikmati keindahan laut, bersantai, berenang di pantai, memancing, dan menikmati pertunjukan hiburan yang di pentaskan.
  • Kegiatan Komersial : Kegiatan komersial sebagai penunjang operasional yang di antaranya persewaan, perlengkapan renang, perlengkapan selam, perlengkapan pancing, penjualan makanan dan minuman serta penjualan kerajinan daerah.
  • Kegiatan Pengelola : Kegiatan pengelolaan area wisata yang meliputi pengawasan, pelayanan, dan mengelola area wisata.
  • Kegiatan penunjang : Kegiatan yang mendukung aktivitas rekreasi seperti, beribadah, M dan E, cleaning service, Km/ Wc.

Gambar Foto Satelit Site Lokasi Resort

Lingkungan sekitar yang berbatasan dengan tapak merupakan salah satu potensi pembentuk kesatuan lingkungan Resort di Pantai Nanganesa. Adapun existing site yang ada di sekitarnya adalah:
Di sisi Utara                      : Perkebunan Kelapa Hibrida
Di sisi Timur                      : Perkebunan Kelapa Hibrida dan kampung adat
Di sisi Selatan                   : Teluk Nanganesa dan teluk ia serta view laut Sawu
Di sisi Barat                      : Muara Nanganesa






Semoga bermanfaat...!!!





Monumen Pancasila Landmark (identitas) Kota Ende Flores

Monumen Pancasila Landmark (identitas) Kota Ende Flores

Oleh : Mukhlis A. Mukhtar, ST, MT

Monumen Pancasila yang terletak di Simpang Lima,
antara Jalan A.Yani, Jalan Kelimutu, Jalan El TariGatot Subroto Dan Bandara HAji Hasan Aroe Boesman


     Hampir sebagian besar kota-kota di dunia khususnya kota-kota besar, memiliki ciri khas yang ingin ditonjolkan untuk memberikan identitas pada kota tersebut. Bangunan dominan merupakan salah satu identitas dari suatu tempat atau kota. Bangunan tersebut biasanya dibangun dengan tujuan-tujuan khusus sehingga memiliki kelebihan nilai kualitatif maupun  kuantitatif yang memberi pengaruh bagi daerah atau obyek-obyek lain di sekitarnya.


Gambar Foto Satelit Monumen Pancasila yang terletak di Simpang Lima, antara Jalan A.Yani, Jalan Kelimutu, Jalan El TariGatot Subroto Dan Bandara HAji Hasan Aroe Boesman



      Secara kasat mata bangunan atau elemen dominan dapat berfungsi sebagai  landmark, titik (obyek) yang menarik dan kontras  yang mampu memberi kesan menarik bagi lingkungannya (Lynck, 1964). Landmark bagi sebuah kota atau kawasan merupakan elemen eksternal dan merupakan bentuk visual yang menonjol dari kota, misalnya gunung atau bukit, gedung tinggi, menara, tanda tinggi, tempat ibadah dan lain sebagainya yang dapat  dijadikan sebagai titik orientasi di dalam kota sehingga  dapat membantu orang untuk mengenali suatu daerah.

     Keberadaan bangunan Monumen Pancasila di Kota Ende menjadi ciri khas dalam morfologi kota Ende yang merupakan daerah bekas pembuang Bapak Presiden Pertama Indonesia Bung Karno. Citra kota ende flores sebagai kota pembuangan dan persinggahan Bung Karno sangat cukup di kenal di seluruh Indonesia. Karna Kota Ende merupakan bagian dari sejarah perenungan Butir-butir Pancasila sebagai Dasar Negara  Rebupblik Indonesia.

Gambar Foto  Relief Ukiran Proses Kemerdekaan Bangsa Indonesia Monumen Pancasila 





Gambar Foto Keadaan Sekitar Monumen Pancasila yang terletak di Simpang Lima, 
antara Jalan A.Yani, Jalan Kelimutu, Jalan El Tari Gatot Subroto Dan Bandara HAji Hasan Aroe Boesman